Sebelas penulis merangkai kenangan di empat tempat persinggahan.
Mengantar pergi, menjemput pulang.
Seperti yang udah gue janjikan sebelumnya, dan karena janji adalah utang sedangkan gue nggak doyan ngutang, hari ini gue mau tulis resensi Singgah.
Kumpulan cerpen ini terdiri atas 13 cerita, ditulis oleh 11 penulis, di mana dua cerita di antaranya ditulis oleh the amazing Jia Effendie ;)
Kesemua cerpen di sini memiliki satu benang merah, yaitu di tempat persinggahan sesaat sebelum melanjutkan perjalanan, yaitu terminal, bandara, pelabuhan, stasiun. Ini kata blurb di bagian belakang buku. Padahal sebetulnya ada satu lagi: dermaga.
Membaca kumcer ini, gue jadi inget quote-nya Albert Einstein, "If you can't explain it simply, you don't understand it well enough" karena kalau kamu tanya apa isi cerita dalam kumcer ini satu per satu, gue bisa merangkainya dalam dua-tiga kalimat sederhana. Tapi bukan itu inti membaca cerpen, kan? Gue suka cerpen yang kalimat-kalimatnya bikin gue 'tersesat' di dalamnya dan saat mendekati ending-nya, gue dapet semacam kesadaran tentang isi cerpen tersebut. Jadi, penulis nggak perlu nulis kalimat seperti, "Ia pergi ke sana untuk mengenang kekasihnya yang sudah meninggal", melainkan menulis kalimat lain yang lebih indah.
Khawatir bikin spoiler nih, gue tulis aja petikan dari cerpen-cerpennya, ya :)
1. Jantung (Jia Effendie)
"Ini apa, Nek?" tanyaku.
"Cukup untuk mengganjal hatimu yang kosong," ujarnya.
"Tapi perutku yang lapar, Nek."
"Hatimu lebih lapar," dia berkata, mengambil salah satu benda yang tampak kenyal itu ke atas daun yang dijadikannya piring, menyerahkannya padaku. "Makan."
2. Dermaga Semesta (Taufan Gio)
(Kata penulisnya, ini cerpen pertamanya. Subhanallah, cerpen pertama udah sedalem ini, gimana cerpen berikutnya? I think I am officially a fans now!)
Setengah perjalanan menuju pulau tujuan, gelombang mulai mengempas kapal. Makin lama, semakin liar ia. Tapi aku malah menikmati sensasi ini. Terombang-ambing. Kalut. Barangkali, seperti inilah hidup tanpamu. Aku harus membiasakan diri.
3. Menunggu Dini (Alvin Agastia Zirtaf)
"Bapak menunggu apa?" Akhirnya kuputuskan untuk balik bertanya.
"Menunggu kekasih saya."
Kalimat laki-laki tua itu membuatku langsung tertawa tanpa disadari. Tahu yang kulakukan tidaklah sopan, maka kuhentikan tawaku segera.
"Kenapa? Saya ndak boleh punya kekasih?" Laki-laki tua itu menantang dengan senyum menggoda.
Aku menggeleng cepat kemudian mengangguk, "Boleh, Pak. Tentu boleh."
Diam kembali datang, kami berdua yang mengundangnya.
4. Moksha (Yuska Vonita)
(Kata penulisnya waktu launching kemarin itu tentang isi cerpennya sih, "Cinta adalah karma." Jadi, anggap aja begitu, hehehe..)
5. Kemenangan Apuk (Bernard Batubara)
"Lewat pantulan di permukaan Sungai Kapuas, Apuk dapat melihat mereka tercengang dan ternganga. Mereka akan menangis saking haru bercampur malu. Mereka akan berlutut dan mengakui kemenangan Apuk. Mereka tak akan pernah melecehkan Apuk lagi! Petang nanti Apuk akan buktikan, dan teman-teman Apuk yang keparat itu akan tahu. Tidak, tidak, Mak, Bapak, seluruh dunia akan tahu, Santi juga akan tahu bahwa Apuk ini lelaki, anak Kapuas. Dan Apuk bisa berenang. Ha ha ha."
6. Langit di Atas Hujan (Dian Harigelita)
Sesi-sesi chat mereka kurang-lebih seperti itu. Acak tapi menyenangkan. Selalu membuat Kinan berpikir dan mempertanyakan hal-hal yang selama ini ia yakini. Mencoba melihat hal-hal tersebut dari sudut yang berbeda. Bagi Kinan, Angga semacam oase berpikir.
7. Semanis Gendis (Anggun Prameswari)
Angin lagi-lagi bertiup. Lebih dingin. Lebih sepi. Keduanya hanya terus memandangi puing-puing itu dengan membisu. Mbak Gendhis akhirnya membalikkan badan dan pergi tanpa berkata apa-apa. Kesedihan telah menghapus senyum di wajahnya. Sukro hanya memandangnya. Lekat erat tak sanggup lepas. Ah, andaikan wanita itu tahu betapa dia ingin memeluknya dan berkata semua akan baik-baik saja.
8. Rumah untuk Pulang (Anggun Prameswari)
Bangku panjang di peron stasiun memang seharusnya kosong selarut ini. Semestinya Arum tidak duduk di sana. Tapi di sanalah ia, termangu menunggu kereta, merapatkan cardigan kusamnya. Arum mau pulang. Pulang ke rumah tempat hatinya berada. Hanya saja, hatinya telah hilang. Entah ke mana.
9. Memancing Bintang (Aditia Yudis)
"Kamu selalu sibuk berjalan, Grace. Pulanglah, jangan sekadar singgah, dan aku akan mengajakmu memancing ke tempat lain. Aku bukan pelabuhan ini yang sekadar kamu jadikan tempat singgah. Pulang lalu pergi, hanya lewat dan terlupakan."
Kemarin, di dalam kotak itu ada tawaran yang kesekian darimu: "Maukah menjadi partner memancingku, selamanya?"
10. Para Hantu dan Jejak-Jejak di Atas Pasir (Adellia Rosa)
(Waktu launching kemarin, kata Jia, ada dua orang cerpen yang didapat dari hasil sayembara yang dia adakan di fesbuk. Waktu gue baca, gue tau kenapa cerpen ini bisa menang :) Keren!)
Hidungku kembang-kempis mencium aroma laut yang begitu asin. Amis. Kemudian kututup mata dan aku mulai berandai-andai. Aku senang berkhayal. Aku membayangkan, saat ini sedang menunggu dijemput, di sebuah pelabuhan menyedihkan yang hanya berisi kumpulan nelayan tua bergigi kuning dengan kuku yang menghitam. Atau, aku berkhayal memiliki seekor anjing berbulu cokelat panjang dengan ekor mengibas-ngibas saat aku mengajaknya berlari. Kami berburu sepasang jejak kaki. Begitu pasti nama permainannya.
11. Koper (Putra Perdana)
(Ini cerpen yang bikin jantung gue berdebar lebih cepat dari biasanya karena unsur ketegangan yang dihadirkan lewat kalimat-kalimatnya. D a r i a w a l s a m p a i a k h i r. Suka! >.<)
Blam! Kututup pintu kubikel toilet itu keras-keras. Jemariku enggan berhenti gemetar ketika menyelarak kuncinya. Kudekap erat benda terkutuk itu. Paru-paruku tak bisa diajak kompromi. Napasku tersengal.
12. Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita (Artasya Sudirman)
"You miss her a lot, don't you?" tambahnya. Entah mengapa, air mataku mengalir. Seperti kapal raksasa yang berlayar, aku bahkan tidak tahu di mana kesepian ini harus berlabuh. Aku, kosong.
13. Pertemuan di Dermaga (Jia Effendie)
Mereka bertemu kala senja. Mereka mengobrol seperti sepasang mantan. Canggung, tetapi jelas tak ada yang ingin berpisah. Ketika malam semakin larut, Adam membawanya ke sebuah dermaga.
Tak ada yang menarik dari tempat itu. Jarum jam sudah terlalu tua untuk menikmati senja, pun terlalu dini untuk berharap melihat matahari terbit. Sepenuhnya gelap. Cahaya adalah temaram lampu-lampu neon di warung-warung yang berderet sepanjang tepinya (Lihat kan, pilihan katanya? Gimana gue nggak jatuh cinta cobaaaaaaaa??? Oke, setop. Cukup.)
Sekian ya resensinya. Yang penasaran, bisa beli di Gra*edia atau toko buku lainnya. Waktu gue pamer punya buku ini, banyak banget yang pengin minjem. Siapa sih, yang dulu pernah dengan cerobohnya bilang minat baca orang Indonesia itu rendah? Minat bacanya tinggi tau, yang rendah itu daya belinya :p
mbaknya ini aktif sekali ya di blog. Membuatku malu.. huhuhu. Blogku baru beberapa waktu terakhir dirawat. :3
BalasHapuswell, tentang reviewnya. Satu kata saja, PENASARAN. Ah, mbaknya bikin aku penasaran dengan cerpen-cerpen yang memiliki kedalaman kata itu. Huahhhh...
@vera astanti Wedehh.. ini aktif karena lagi ada yang mo ditulis ada, Ver. Kalo enggak mah, dianggurin berhari-hari, hehehe..
BalasHapusAyo ayo beli dong, biar nggak penasaran lagi ;)
sayah termasuk berminat baca tinggi berdaya beli semacam *kalo ada yang minjemin belinya ditangguhkan dulu*.
BalasHapusPenapsaran tapi kalo boleh minjem ya.. :D
*dilempar rak buku*
Bagus Dell keknya isi bukunya. Bener deh, mending bilang isinya itu apa dari metafora yang ditulis daripada langsung dijembrengin.. :D
thanks reviewya mbak, tapi leboh asyik baca langsung kali ya :)
BalasHapustau nama bernard, yuska, adit. itu aja, hehe, yang lainnya masih belum pernah baca karyanya, mba. kayaknya menarik ya :D
BalasHapuswkwkwkwk iyeee daya belinya yang kurang banget yak..;p
BalasHapusbte gue suka deh kata2 --> Diam kembali datang, kami berdua yang mengundangnya..
kereeeen yak...:D
@Desi
BalasHapusTapi kalo lo mau minjem, gue pinjemin kok, Des, hihihi..
Iya tuh si Alvin, keren ya, pilihan katanya? Masih muda lagi, masih mahasiswa. Cakep pula *radar brondong mulai bunyi*
@Ila Rizky Nidiana What? Blom pernah denger nama Jia? Ehehehe.. ayo beli, Ky. Nggak nyesel, deh ;)
BalasHapus@Lidya - Mama Cal-Vin Banget ^__^
BalasHapus@danirachmat Boleh kok minjem, Dan. Tapi antrean udah panjang :D
BalasHapuslangsung meluncur ke gra*edia aja kali nyak. :D
BalasHapus@Della
BalasHapushehehe, iyak nih.. hobi pinjem bukan hobi beli.. wekekeke.. nabung dulu... iket ikat pinggang lagi deh... wekekekeke
wekeke, bener2 minat baca emank tinggi tp daya beli rendah :D
BalasHapustp aku udah gak suka baca buku yg fiksi lagi, agak males2 gemana gitu :D
saya juga penasaran jadinyaa...
BalasHapusyuk maree meluncur beli...
eh eh.. ada kinan nya dicerpen no.6..
(lagi demam namaa kinan,,,, :D
pinjemin gw sini makk hehehe
BalasHapusnunngu yang minjemin aja deh :D
BalasHapuswih, masih musim pamer "SINGGAH" disini. sekalian jd hadiah GA-nya mbak del. ekekekkekekekkk
BalasHapus@ilmiy Iya, Miy. Ntar kasih tau ya, kamu paling suka cerpen yang mana ;)
BalasHapus@Nophi Tapi Kinannya di situ.. ngggg.. baca sendiri deh, takut spoiler, hehehe..
BalasHapus@Yeye Boleh, boleh *kasih Yeye nomer antrean*
BalasHapus@dea purnama Hehehe..
BalasHapus@Asriani Amir Huadduh, nggak deh Chi, makasih. Nggak dalam waktu dekat ini. Bikin GA itu ternyata melelahkaaaaaaaaaaaaannnn.. T^T
BalasHapusMenarik nh reviewnya bak del.. Boleh pinjem? *gakmodal* hihi
BalasHapusaku paling setuju sama kalimat penutup postingannya hihihiii
BalasHapusmihihihi...iya bangeeet, si mba OG di kantor yg sering aku pinjemin buku bilang gini "aku suka baca sih mba, tapi minjem mba Orin aja ya, mahal bukunya" hihihihi
BalasHapushihihi.. betul ituuuhhh... lagian selama bisa minjem ngapain arus beli kan harus usaha dulu *usaha buat minjem :D
BalasHapuspengeeeennnnnn....
BalasHapus#tutup blog langsung lari ke Gramedia, hihihihi
Terharu aku mba baca kalimat terakhirnya. Daleeeemmm banget maknanya #NgambilKuponAntrian. :D
BalasHapusyang paling bagus yg mana Del dari 13 cerpen itu?
BalasHapus@Bunny Cat Aku mah sukanya yang punya Jia tentu saja, tapi suka juga yang punya Taufan, Nov ;)
BalasHapus@kikimayang Boleh aja sih, tapi ambil di rumahku ya? Hihihi..
BalasHapus@Mila Said Hidup minjem! \(^O^)/
BalasHapus@rindrianie Iya Rin, emang mahal sebetulnya, apa lagi kalau buku nggak jadi prioritas :)
BalasHapus@myra anastasia Iya ya, Chi :D
BalasHapus@Sarah Hati-hati kesandung, Sar :D
BalasHapus@Evi Yoenz *ngasih Evi kupon antrean*
BalasHapus@ahayurumi Minta beliin sama 'Kawan', dong ;)
BalasHapusWah ... harus nunggu sampai sana lagi nih mbak biar bisa ke Gra...ia :)
BalasHapus@duniaely Iya ya, Mbak El :D
BalasHapussore ini meluncuuur ke gra**d...penasaran...pengen cepet baca, sekalian jadi temen dikala papski pergi..
BalasHapusNyonya perca ada di gramedia juga gak, Dell ?
BalasHapusBiar sekali beli online maksud gw.
Beneran kayaknya selera bukunya sama deh.
Eh gw justru gak begitu suka pinjem buku orang lho. Makanya gw keukeuh pengen punya buku loe ketimbang pinjem desi. Hihihi
Terima kasih banyak sudah datang ke acara launching dan mereview buku Singgah :)
BalasHapus